PILKADA TASIKMALAYA 2024, Tokoh Budayawan Acep Zamzam Noor Beri Kritikan Pedas ke Parpol Soal Calon Bupati

- 31 Maret 2024, 10:00 WIB
Acep zamzam Noor, Penyair, budayawan dan Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiyat beri kriitkan pedas kepada Parpol soal Pilkada Tasikmalaya
Acep zamzam Noor, Penyair, budayawan dan Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiyat beri kriitkan pedas kepada Parpol soal Pilkada Tasikmalaya /Foto : Dok Pribadi azn/

DESKJABAR - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tasikmalaya tahun 2024 sudah diramaikan oleh beberapa calon yang diduga akan diusung oleh partai masing masing-
Seperti petahana Ade Sugianto diusung oleh PDIP, Iwan Saputra dari Partai Golkar dulu ripal Ade di Pilkada Kab. Tasikmalaya 2024.

Kini muncul muka baru yakni Asep Sopari Al Ayubi dari Partai Gerindra dan juga calon lainnya. Asep Sopari yang menjabat Ketua DPRD Kab. Tasikmalaya adalah salah satu tokoh muda yang kini sedang naik daun.

Dominannya muka lama dan kurangnya tokoh muda yang muncul di Pilkada Kab. Tasikmalaya mengundang keprihatinan mengingat di Tasikmalaya banyak lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang menelorkan tokoh tokoh muda yang berprestasi di daerah hingga ke tingkat nasional.

Baca Juga: PROMO Gempar Gempita Lebaran di Yomart: Ada Diskon Harga Spesial, Berlaku Hingga 11 April 2024

Tokoh budayawan dan penyair Tasikmalaya Acep Zamzam Noor kepada media mengaku tidak kaget dengan kondisi tersebut, pasalnya menurut Acep selama ini calon yang dimunculkan atau didukung parpol dalam setiap Pilkada atau Pilwalkot adalah calon yang akan menguntungkan partai, sehingga wajar, jika calon tersebut tidak dikenal atau tidak mengenal masyarakat.

“Selama sikap dan cara pandang parpol seperti itu, ya pasti orang-orang yang dicalonkannya itu adalah mereka-mereka yang akan menguntungkan parpolnya,” ungkap Acep yang juga Putra Alm. KH. Ilyas Ruhiat kepada wartawan saat dihubungi via selulernya, Minggu 31 Maret 2024.

Diingatkan Acep, pencalonan seorang Bupati atau Wali Kota itu seharusnya sesuai dan sejalan dengan keinginan serta kebutuhan masyarakat. Bukan hanya keinginan dan kebutuhan parpol semata agar masyarakat benar-benar merasa memiliki.

“Jadi ya selama proses pencalonannya seperti itu, ya jangan harap muncul Bupati atau Wali Kota yang bisa memenuhi dan memahami keinginan masyarakatnya,” papar pelukis yang juga alumni Seni Rupa ITB ini.

Berbeda dengan Acep Zamzam, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Siliwangi (Unsil), Dr. Yusuf Abdullah melihat ada tiga hal yang membuat tersumbatnya proses transformasi ketokohan itu. Pertama Edukasi yakni proses penyadaran kepada masyarakat bahwa ketokohan itu tidak muncul ujug-ujug. Tapi melalui proses yang berkesinambungan, sehingga segalanya menjadi terukur.

Halaman:

Editor: Yedi Supriadi


Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah