Euro 2021, Tim Jerman, Korban Sasaran Politik Konspirasi Terhadap Sepakbola

- 23 Juni 2021, 19:30 WIB
Penjaga gawang sekaligus kapten tim seepakbola Jerman, Manuel Neuer, mengenakan ban kapten berwarna pelangi , saat pertaningan Euro 2021, menghadaoi Hongaria, Rabu, 23 Juni 2021.
Penjaga gawang sekaligus kapten tim seepakbola Jerman, Manuel Neuer, mengenakan ban kapten berwarna pelangi , saat pertaningan Euro 2021, menghadaoi Hongaria, Rabu, 23 Juni 2021. /Youtube milik akun Mulekron

Indikasi kuat tim sepakbola Jerman sudah termasuki ranah politik terlihat mulai tahun 2010 di Afrika Selatan. Tampilan tim Jerman tidak lagi 100 persen orang Jerman.

Kini, pada Euro 2021, tampak tim sepakbola Jerman harus menerima sasaran politik untuk mendukung kampanye kalangan LGBTQ.

Baca Juga: Polda Jabar Dukung PTPN VIII Dalam Penegakan Hukum Terhadap Gangguan Areal Perkebunan

Media televisi Jerman, Deutsche Welle (DW) pada 17 Februari 2021, melansir, bahwa di Jerman, lebih dari 800 pesepakbola telah mendaftar ke kampanye oleh majalah sepak bola Jerman yang bertujuan menawarkan dukungan kepada pemain LGBTQ.

Namun pemain tim Jerman veteran tim juara Piala Dunia 2014, Philipp Lahm, masih memiliki keraguan tentang tingkat penerimaan dalam permainan, yang dimaksud adalah dalam tim.

Politisasi dalam ajang sepakbola terutama mulai muncul ketika Piala Dunia 1994 dengan tuan rumah Amerika Serikat. Nuansa Amerika banyak yang kemudian terkesan dipaksakan masuk ke ranah sepakbola.

Baca Juga: Riset Perguruan Tinggi Vokasi Diarahkan Memenuhi Kebutuhan Masyarakat, Pasar, dan Industri

Sejak Piala Dunia 1994, ada aturan baru, misalnya penulisan nomor di bagian dada kostum, pencantuman nama pemain di bagian punggung kostum, nomor-nomor punggung yang tak lazim, bahkan setiap setelah terjadi gol kemudian diiringi musi yang mirip di pertandingan bolabasket.

Apa yang terjadi kini pada banyak bidang di Jerman, merupakan sesuatu yang bertolak belakang ketika pemerintahan Nazi yang dipimpin Adolf Hitler (tahun 1933-1945). Saat itu, pemerintahan Nazi Jerman melarang keras homoseks dan transgender dengan dimasukan ke kamp konsentrasi.

Namun karena kalah Perang Dunia II, negara Jerman kemudian menjadi terdikte secara politik oleh pihak Sekutu (kubu liberal) dan Uni Soviet (kubu komunis). ***

Halaman:

Editor: Kodar Solihat


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah