Perpadi Jawa Barat Tanggapi Positif Pasokan Beras Impor untuk Kendalikan Harga Februari 2024

- 13 Februari 2024, 13:42 WIB
Penjual beras di Pasar Sederhana Bandung, pasokan beras impor bakal mengalir untuk mengendalikan harga pada Februari 2024.
Penjual beras di Pasar Sederhana Bandung, pasokan beras impor bakal mengalir untuk mengendalikan harga pada Februari 2024. /Kodar Solihat/DeskJabar

DESKJABAR -  Pasokan beras impor dinilai diperlukan untuk mengisi pasokan dan mengendalikan harga pada Februari 2024 ini. Kalangan Perpadi (persatuan penggilingan padi dan pengusaha beras Indonesia) Jawa Barat menilai positif rencana digelontorkannya beras impor, sebagai solusi mengatasi kondisi harga yang sedang sangat mahal.

Kenaikan beras secara signifikan yang terjadi pada Februari 2024 banyak meresahkan kalangan rumah tangga. Bahkan diketahui, banyak bisnis ritel menjadi membatasi jumlah pembelian oleh para konsumen.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengatakan, akan melakukan impor beras. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, dilansir Antara, menyebutkan, kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sampai menjelang panen padi lokal Maret 2024.

 Baca Juga: HARGA BERAS NAIK, Pemkot Bandung Bertekad Turunkan Harga Beras Sebelum Ramadan 2024

Sudah diperlukan

Sekretaris Perpadi (Persatuan Penggilinan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia) Jawa Barat, Muchlis Anwar, kepada DeskJabar, di Bandung, Selasa, 13 Februari 2024, menilai positif langkah pemerintah dalam melakukan impor beras untuk mengendalikan harga yang sudah naik tinggi.

Disebutkan, fenomena naiknya harga beras sejak awal Desember 2023 sampai pertengahan Februari 2024 ini, sangat mengecewakan berbagai pihak. Sebab, naiknya harga beras sudah fantastis dengan tembus di atas 1 Dollar AS untuk kelas premium.

Kondisi demikian, diketahui akibat faktor cuaca alam,karena kemarau berkepanjangan yang anomali. Pada konisi demikian, perolehan produksi beras pada panen rendeng tidak sukses, terutama karena kurangnya bahan baku gabah karena panen tidak merata.

Pada saat ini, banyak pengusaha penggilingan padi umumnya tidak beroperasi akibat tidak ada pasokan gabah. Yang masih memperoleh gabah hanya sebagian kecil, tetapi harganya naik juga sehingga dijual menjaid beras menjadi ikut naik di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Pemerintah masih punya cadangan beras impor yang sekarang akan digelontorkan ke pasar pasar rakyat dan ritel modern. Pasokan ini diharapkan bisa menekan kenaikan harga beras yang sudah tidak terkendali,” ujar Muchlis Anwar.

Tetapi diharapkan, pada pertengahan Maret 2024, sudah ada panen raya pada sejumlah wilayah sentra penggilingan beras di Jawa Barat. Dengan demikian, harga akan menjadi sama-sama baik bagi semua pihak, mulai petani, penggilingan, sampai konsumen.

Baca Juga: JELANG Ramadhan 2024, Harga Pangan Rame-Rame Naik, di Jabar Beras Premium Naik Rp 1.000 di Sepekan Terakhir

Panen bakal surplus ?

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan akan ada lonjakan produksi beras pada bulan Februari dan Maret 2024 mendatang. Lonjakan tersebut bahkan mencapai angka tinggi, yakni sebesar 6,10 juta ton GKG yang terjadi pada Bulan Maret berikutnya.

Hasil Kerangka Sampel Area (KSA) yang dilakukan BPS pada bulan Desember 2023 menunjukkan bahwa produksi gabah pada bulan Januari mencapai 1,58 juta ton gabah kering giling (GKG), lalu pada bulan Februari sebesar 2,42 juta ton.

Ketua KTNA Nasional, Yadi Sofyan Noor mengatakan kenaikan tersebut tak lepas dari kolaborasi semua pihak, terutama upaya pemerintah yang getol memberikan berbagai bantuan dan pendampingan di seluruh daerah secara masif.

Dia pun mengaku yakin apabila kenaikan gabah dikonversi menjadi beras maka hasilnya secara otomatis akan mengalmi surplus. "Karena itu saya yakin panen tahun ini akan melimpah dan surplus beras mulai akan terlihat di bulan Maret," ujar Yadi, Kamis, 8 Februari 2024. ***

 

 

 

 

   

Editor: Kodar Solihat

Sumber: Wawancara


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah