Kuliah Umum PKPPWA UPI: Studi Maskulinitas Dalam Karya Klasik Islam untuk Keseteraan Gender

- 7 Mei 2021, 17:10 WIB
Kuliah umum PKPPWA UPI.
Kuliah umum PKPPWA UPI. /Istimewa/


DESKJABAR
- Studi atau riset tentang maskulinitas dalam periode Pra-Islam Modern bisa menjadi alternatif penting dalam mendorong kita mengenal lebih dalam tentang keseteraan gender. Studi tentang hal ini juga akan mengalihkan perhatian kita pada konsep gender alih-alih sekadar tentang perempuan.

Demikian benang merah penyampaian peneliti gender dari Dartmouth College, Amerika Serikat, Zahra MS Ayubi, PhD pada Kuliah Umum ‘Women, Gender, and Islam’ yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Pengembangan Peranan Wanita atau Gender dan Perlindungan Anak (PKPPWA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UPI, Jumat 7 Mei 2021.

Kuliah yang digelar secara virtual (zoom) tersebut dibuka oleh Kepala LPMM UPI Prof Dr Dadang Sunendar serta Kepala PKPPWA Vina Adriany, M.Ed , P.hD. Pembicara lain pada kuliah umum tersebut adalah Tutin Aryanti, Ph.D dengan moderator Dr Rd Safrina Noorman.

Baca Juga: Inilah Olahraga yang Cocok bagi Penderita Hipertensi

Zahra Ayubi adalah Asisten profesor studi agama di Dartmouth College. Dia berspesialisasi dalam filsafat feminis Islam dan telah menerbitkan karya ilmiah tentang konsep gender dari perspektif etika, keadilan, dan otoritas agama, dan tentang pemikiran feminis Muslim dan pengalaman perempuan Muslim Amerika. Dia menyelesaikan sarjana di Brandeis University dan Ph.D. dalam Studi Keagamaan dari UNC Chapel Hill.

Sementara itu, Tutin yang menyelesaikan sarjana dan magister di bidang arsitektur, Institut Teknologi Bandung meraih PhD di Sekolah Arsitektur Universitas Illinois di Urbana-Champaign, AS, dengan kajian mayor terkait Sejarah Arsitektur Masjid Asia Tenggara di Abad XXI dan kajian minor terkait Islamic Religious Feminism (2013). Ia memaparkan materi tentang ajaran Islam ‘menutup pandangan’ yang memiliki kaitan erat dengan sistem tata ruang dan arsitektur bangunan dalam tradisi muslim.

Zahra Ayubi yang menulis buku Gendered Morality: Classical Islamic Ethics of the Self, Family, and Society mengungkapkan, bahwa sumber kitab suci Islam menawarkan gagasan yang berpotensi radikal tentang kesetaraan. Namun para filsuf Islam abad pertengahan memilih untuk menetapkan etika kebajikan yang hierarkis dan berpusat pada laki-laki. “Harus ada perubahan filosofis dalam studi gender dalam Islam berdasarkan sumber daya untuk kesetaraan gender yang dibuka oleh keterlibatan feminis dengan tradisi etika Islam,” ujarnya.

Baca Juga: Ini 16 Jalur Tikus yang Dipantau Kepolisian Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi

Ia menawarkan pendekatan konstruksi maskulinitas dan hubungan gender dalam karya klasik etika filosofis. Dalam pembacaan teks-teks dasar oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Nasir-ad Din Tusi, dan Jalal ad-Din Davani, ia meneliti bagaimana para pemikir ini memahami manusia etis sebagai laki-laki elite dalam kosmologi hierarkis yang dibangun di atas pengecualian wanita dan nonelite. “Maskulinitas yang merupakan konsep tentang laki-laki dan ‘kelelakian’ harus juga menjadi bagian dari teori akademik guna memahami gender itu sendiri,” katanya.

Dia juga menyerukan perubahan filosofis dalam studi gender dalam Islam berdasarkan sumber daya untuk kesetaraan gender yang dibuka oleh keterlibatan feminis dengan tradisi etika Islam.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags


Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

PRMN TERKINI

x